Pembibitan adalah fase kritis dalam perkebunan. Bibit yang baik akan tumbuh menjadi tanaman produktif, sementara bibit jelek akan menjadi beban finansial jangka panjang.
Pemberian pupuk sebaiknya dilakukan saat tanah dalam kondisi lembab — tidak terlalu kering yang menyebabkan pupuk tidak terserap, dan tidak terlalu basah yang menyebabkan pupuk mudah tercuci. Waktu yang ideal adalah pagi atau sore hari.
Dosis pupuk yang tepat ditentukan berdasarkan analisis tanah dan analisis daun secara berkala. Standar yang umum digunakan di Indonesia mengacu pada rekomendasi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan dan literatur ilmiah lainnya.
Bibit kelapa sawit unggul tersedia dari PPKS Medan, ASD Costa Rica, dan beberapa produsen lokal terpercaya. Hindari bibit dari sumber tidak jelas karena risiko ilegitim tinggi.
Pelatihan rutin untuk mandor dan tenaga pemupukan sangat penting. Mandor adalah ujung tombak yang menentukan apakah pupuk diaplikasikan sesuai SOP atau tidak. Pelatihan praktis di lapangan lebih efektif daripada hanya teori di kelas.
Bibit yang baik memiliki ciri: pertumbuhan vigor, daun hijau gelap, bebas hama dan penyakit, dan akar kompak. Hindari bibit yang etiolasi (tinggi tapi kurus).
Pemupukan yang efektif harus mempertimbangkan musim. Di musim hujan, pupuk yang mudah tercuci (seperti urea) perlu diaplikasikan lebih sering dengan dosis lebih kecil. Sebaliknya, di musim kemarau, pemupukan bisa dilakukan setelah hujan pertama.
Praktik perkebunan terbaik selalu berkembang seiring kemajuan teknologi dan penelitian. Para pelaku perkebunan yang adaptif akan memetik manfaat dari adopsi praktik dan teknologi terbaru.